id
Bab 2 — Takdir yang Tersebar (1)
002-takdir-yang-tersebar.md
← Bab Sebelumnya · Indeks Bab · Bab Berikutnya →
"Wakil Manajer Seo, apa ini...?"
"Apa itu...?"
Direktur Kim dan Wakil Manajer Kang berbisik.
Namun, perhatianku lebih tertuju pada air liur rubah yang menetes di hadapanku.
[Manusia bijak di antara kawanan, aku tak akan mencelakai kalian tanpa alasan. Namun, jika ingin tetap tinggal di wilayahku, kalian harus membayar. Salah satu dari kalian harus menyerahkan anggota tubuh agar tempat tinggal kalian kuakui untuk sementara. Siapa yang akan mengorbankannya?]
Benar.
Karena sudah sampai sejauh ini...
"Aku... akan menyerahkannya."
Dengan tubuh gemetar, kujulurkan lengan kiriku.
Dalam kehidupan sebelumnya, saat aku belum tahu apa-apa, semua orang menjerit ketakutan melihat rubah itu.
Akibatnya, mereka semua sekarat dengan lengan dan kaki terkoyak, lalu dimakan dalam amukan rubah.
Bisa selamat dari itu saja sudah merupakan mukjizat.
Namun kini aku tahu tata krama hutan dan telah mendapat perkenan rubah.
Bukan anggota tubuh semua orang.
Bukan semua anggota tubuh.
Hanya anggota tubuh satu orang.
Cuma satu dari kami yang harus menyerahkannya.
Lagi pula, para cultivator yang datang dua hari lagi akan menyembuhkannya.
[Benar-benar manusia bijak. Aku mengakui pengorbananmu. Akan kucicipi selembut mungkin, agar rasa sakitmu tak terlalu parah.]
Rubah itu membuka mulutnya yang lebar dan menggigit lenganku.
"!!! Aaaahhh! Aaaargh! Aaaargh!"
Dagingku terkoyak oleh gigi-giginya yang besar.
Tulang remuk, pembuluh darah pecah.
Krak, krak, krak!
Krek!
Srak!
Setelah mengunyah lenganku beberapa saat, rubah itu mencabiknya dengan kasar dari tubuhku.
"Ah... Argh... Ahh..."
Aku menggeliat kesakitan, nyaris kehilangan kesadaran, lalu meraup segenggam tanaman pereda nyeri yang sudah kusiapkan sebelumnya.
Kumasukkan semuanya ke mulut, akar dan tanahnya sekalian, lalu kutelan.
Tanah dan pasir pada akar terselip di gigiku, tetapi itu bukan masalah penting.
Rasanya sakit sekali!
Setelah mengunyah tanaman itu beberapa lama, khasiatnya mulai bekerja dan rasa sakit perlahan mereda.
Krak, krak... lahap.
Tak lama kemudian, rubah yang menelan seluruh lenganku menjilat bibirnya.
[Aku kira rasanya akan berbeda karena aromanya unik. Ternyata tak jauh berbeda dari manusia biasa. Banyak sekali kotoran dalam pembuluh darahnya, jadi rasanya kasar dengan sisa rasa tak enak.]
"...Terimalah persembahan sederhana ini."
[Aku menerima persembahanmu dan mengizinkan kalian tinggal di wilayahku selama tujuh malam. Kekuatan suciku telah merasukimu, jadi kau tak akan mati akibat luka ini.]
Usai berkata demikian, rubah itu melompat pergi dan menghilang ke dalam hutan.
"Hu, huuh... Hah, hah..."
Kunyah tanaman penghenti pendarahan, lalu kuoleskan sarinya pada bagian lenganku yang tercabik. Pendarahan pun berhenti dan rasa sakit berangsur surut.
"Gr... Ugh..."
"Wakil Manajer Seo!"
"Wakil Manajer Seo Eun-hyun!"
Direktur Kim dan Wakil Manajer Kang bergegas menolongku.
"Apa semua ini? Apa yang barusan terjadi?"
"...Kita masuk dulu. Akan kujelaskan."
Dengan ditopang keduanya, aku kembali ke gua.
Lalu, kucampur kebenaran dan kebohongan saat menjelaskan apa yang terjadi.
"Pagi ini, aku bertemu rubah itu saat keluar lebih awal. Katanya..."
Mereka toh akan tahu sendiri dalam beberapa hari.
Kukarang seolah-olah pengetahuan yang sudah kumiliki berasal dari ajaran rubah.
Ini bukan dunia tempat kami tinggal dulu, melainkan dunia lain sepenuhnya, yang dihuni para immortal, cultivator, dan ahli bela diri.
"...Dunia persilatan, ya. Menarik juga."
"Hehe, tak pernah terpikir aku akan mengalami hal seperti ini."
Direktur Kim dan Kepala Bagian Oh bercanda soal dunia persilatan, berusaha mencairkan suasana meski mereka masih tak percaya.
"Haha, Wakil Manajer Seo. Kalau soal dunia persilatan, aku ahlinya. Jadi begini..."
Suara Direktur Kim bergetar, membocorkan usahanya menyembunyikan perasaan.
"Jangan mati. Kalau kau mati..."
Ia bukan bersemangat membicarakan dunia persilatan; ia hanya berusaha mengalihkan perhatian dari rasa sakitku.
Direktur Kim dan Kepala Bagian Oh berusaha menghibur semua orang karena merekalah yang tertua di sini.
"...Tak apa-apa. Aku tak akan mati. Rubah itu bilang kekuatan sucinya akan mencegahku mati akibat luka ini."
Dalam kehidupan sebelumnya, meski kami tak melakukan ritual, anggota tubuh semua orang tetap tercabik-cabik.
Rasa sakitnya membuat kami ingin mati, tetapi tak seorang pun benar-benar mati.
Tidak, kami memang tak bisa mati.
"Tapi bagaimana dengan para immortal dan cultivator?"
Saat Kepala Bagian Oh kebingungan mendengar penyebutan immortal dan cultivator, Kepala Seksi Jeon maju.
"Ada novel berjudul Xianxia, bukan cuma cerita bela diri."
Jeon Myeong-hoon menjelaskan konsep Xianxia kepada Direktur Kim dan Kepala Bagian Oh.
"Begitu rupanya..."
"Kepala Seksi Jeon, kau tahu hal menarik juga."
"Aku tertarik dan pernah mencari tahu."
'Kurasa dia menghabiskan jam kerja membaca novel Xianxia, bukannya bekerja...'
Pantas saja dia melimpahkan pekerjaannya kepadaku.
Aku hampir meledak marah, tetapi segera menahan diri dan melanjutkan.
"Bagaimanapun, pemilik hutan ini meminta persembahan agar mengizinkan kita tinggal sementara. Jadi kuserahkan lenganku. Seharusnya ini membuat kita aman di hutan selama seminggu."
"Seminggu? Apa yang terjadi setelah seminggu?"
"...Kita harus memberikan persembahan lagi."
Semua orang memandang bahuku.
Wajah mereka pucat pasi.
"Omong-omong, bisa tolong ambilkan tanaman pereda nyeri? Sakit sekali."
"Ah, tentu. Yang ini?"
"Terima kasih."
Kunyah lagi akar tanaman pereda nyeri yang tadi kugali.
"Aku akan tidur sebentar. Maklumi, ya..."
Mungkin karena syok, ketegangan mengendur dan aku langsung tertidur.
Setelah menekan rasa sakit dengan tanaman obat, aku pun lelap.
Konon, pendengaran adalah indra terakhir yang padam.
Mungkin itulah sebabnya, saat kesadaranku kembali, aku bisa mendengar suara orang-orang.
"Apa? Persembahan! Keterlaluan..."
"Setelah seminggu, kita harus memberikan persembahan seperti itu lagi?"
"Kita harus memikirkan cara meninggalkan tempat ini sebelum seminggu berlalu."
"Masa kita membiarkan Wakil Manajer Seo menderita seperti ini..."
"Wakil Manajer Seo yang pertama kali bertemu makhluk itu dan nyaris dimakan."
"Justru dialah yang pertama berkorban."
Dalam keadaan setengah tertidur, kudengarkan percakapan yang terus berlanjut.
"Tapi bagaimana kalau kita tak bisa keluar dari hutan setelah seminggu?"
Jeon Myeong-hoon bertanya dengan nada dingin.
Tak ada yang menjawab.
"Lalu siapa yang akan kehilangan anggota tubuhnya berikutnya?"
Keheningan menyelimuti bagian dalam gua.
'Dalam tiga hari... para immortal akan datang dan menculik mereka, jadi sebenarnya tak masalah.'
Tak perlu menceritakan regresiku.
Saat itulah terdengar suara yang agak menyebalkan.
"Apa Wakil Manajer Seo tidur nyenyak?"
"Ya... Dia benar-benar pingsan."
"Wakil Manajer Seo, kalau kau sudah bangun, ada yang ingin kukatakan. Tolong bangun."
Mataku tetap terpejam. Aku berpura-pura tidur.
Jeon Myeong-hoon memastikan aku terlelap, lalu berdiri.
"Keluar sebentar ke pintu gua."
"Hah? Kenapa tak bicara di sini saja?"
"Tidak, ikut keluar."
Akhirnya Jeon Myeong-hoon membawa yang lain ke mulut gua.
Beberapa saat kemudian, kudengar mereka berbisik di sana.
Terdengar pula suara-suara yang mengkritik Jeon Myeong-hoon.
"Kepala Seksi Jeon! Bagaimana kau bisa memikirkan hal seperti itu?"
"Wakil Manajer Seo baru saja mengorbankan lengannya..."
"Ehm. Kepala Seksi Jeon, aku benar-benar tak setuju."
"Ehm..."
Di luar gua, Jeon Myeong-hoon meninggikan suara.
"Jadi, setelah seminggu, siapa yang akan menyerahkan lengan atau kakinya kepada rubah monster itu?"
"Meski begitu..."
"Kepala Bagian Oh, bagaimana menurut Anda? Menurut saya ini masuk akal."
"...Aku tak tahu. Wakil Manajer Seo juga cakap. Dia tahu banyak soal tanaman obat dan makanan..."
"Kalau begitu, selama seminggu ini kita belajar sebanyak mungkin dari Seo Eun-hyun..."
Meski tak bisa mendengar jelas dari luar gua,
aku bisa menebak maksud mereka.
'Jadi mereka berpikir, karena aku sudah cacat, anggota tubuhku saja yang dipotong dan diserahkan kepada rubah setiap minggu.'
Memang tak akan terjadi, tetapi tetap saja menjijikkan.
Benar-benar menjijikkan.
'Haruskah kubunuh dia?'
Meski hanya berlengan satu, selama lima puluh tahun kehidupan sebelumnya aku sudah mempelajari banyak soal kekerasan.
Aku bisa dengan mudah membunuh orang seperti Jeon Myeong-hoon, yang belum sepenuhnya lepas dari peradaban modern.
'...Bukan. Jangan begitu.'
Para immortal yang akan menemukan kami dua hari lagi bukan datang demi "kami".
Mereka datang karena menemukan "orang-orang berbakat".
'Kepala Bagian Oh Hyun-seok, Wakil Manajer Kang Min-hee, dan Kepala Seksi Jeon Myeong-hoon. Mereka terkejut dengan bakat ketiganya.'
Kalau salah satu saja tak ada, aku tak yakin mereka akan datang.
'Haruskah kuhajar dia sampai nyaris mati? Kubuat dia cacat?'
Bagaimanapun, dahulu para immortal tetap datang meski anggota tubuh mereka sudah tercabik.
Kemungkinan besar mereka tetap datang meski anggota tubuh bajingan ini remuk.
Namun, segera kuurungkan pikiran itu dan menggeleng.
'...Karena takut, semuanya pasti sedang kalut. Pada dasarnya mereka orang baik. Hanya saja, situasi ini terlalu mendadak dan tak masuk akal.
Lagipula, kalau nanti aku ingin mengandalkan Direktur Kim, tak baik jika sekarang aku tampak terlalu kejam...'
Lebih baik mereka menganggapku sebagai orang yang perlu dilindungi atau dikasihani.
Selain itu, kalau Direktur Kim ikut dalam rencana ini, rasa bersalahnya kelak akan membuatnya lebih memperhatikanku.
'Malah bagus. Semuanya akan beres pada hari ketiga.'
Dua hari lagi, Jeon Myeong-hoon, Oh Hyun-seok, dan Kang Min-hee akan menjadi orang-orang yang tak akan pernah kutemui lagi.
Tiga hari lagi, Oh Hye-seo dan Kim Yeon juga akan berpisah dari kami, lalu aku dan Direktur Kim Young-hoon bisa keluar dari Ascension Path dengan bantuan monster.
Aku tetap berpura-pura tidur di lantai.
Beberapa saat kemudian, orang-orang masuk ke gua dengan wajah muram, seakan mereka baru saja mencapai kesepakatan kotor.
"Hei, Wakil Manajer Seo. Kau tak apa-apa? Coba bangun."
Jeon Myeong-hoon sengaja membangunkanku.
"Haha, Wakil Manajer Seo. Maaf soal tadi. Aku tak tahu kau ternyata orang yang rela berkorban begini."
"..."
"Mulai sekarang, kami mengandalkanmu."
Jeon Myeong-hoon menatapku dengan senyum yang tak pernah kulihat sebelumnya, lalu menepuk punggungku.
Kulihat orang-orang di sekitar. Wajah mereka semua muram.
'Sampah ini, rupanya dia berhasil membujuk mereka dengan lidah manisnya.'
Sesaat aku begitu kesal sampai ingin mencekik dan membunuh orang yang merangkulku itu.
'Tahan. Haa, tahan saja.'
"...Ya. Kita semua harus bertahan bersama dalam situasi sulit ini."
"Haha, betul. Ngomong-ngomong, buah yang kau petik kemarin. Kau tahu tempat menemukannya?"
"..."
Bajingan ini membangunkanku cuma untuk itu rupanya.
"...Bisa kuajari. Sebenarnya, Kepala Seksi Jeon, aku memang berniat mengajarimu secara khusus."
"Ha, benarkah? Terima kasih! Terima kasih banyak!"
"Tak perlu cemas soal bertahan hidup di hutan. Akan kuajari semuanya."
Kubalas dengan senyum licik.
Ya, akan kuajarkan semua pengetahuan ini.
Toh, begitu bergabung dengan sekte kultivasi, pengetahuan ini tak akan lagi kau perlukan seumur hidup.
"Jeon Myeong-hoon. Sudah berapa kali kubilang, bukan buah itu? Kau tak mendengarkan, ya?"
"Tidak, tapi seharusnya..."
"Yang pucuknya terbelah itu buah lain. Kalau kau makan buah ini, kau akan mati. Paham?"
"..."
Saat mengajarkan tanaman obat dan buah yang bisa dimakan kepada Jeon Myeong-hoon, aku tak lagi memanggilnya "Kepala Seksi".
Ia belajar tanaman obat sambil menyeringai, meski terus kumarahi.
'Penasaran juga betapa frustrasinya dia saat tahu tanaman obat kelas rendah ini tak berguna bagi murid sekte.'
"Tidak, Jeon Myeong-hoon. Masa begini saja tak paham? Sudah kujelaskan berulang kali. Kau memang sulit berkonsentrasi."
"...Aku mengerti."
Wajah Jeon Myeong-hoon semerah rasberi.
Kini Jeon Myeong-hoon merasakan sendiri siksaan yang dulu ia berikan kepadaku saat aku baru masuk perusahaan.
Ia pasti menahannya sambil berpikir untuk mengeruk sebanyak mungkin pengetahuan selama seminggu.
Maaf, tapi dua hari lagi kita tak akan bertemu lagi.
"Lihat ini. Namanya green-leafed ear. Kalau dikunyah, aromanya khas. Bisa digunakan untuk menggosok gigi dan mengusir serangga."
"Green-leafed ear, green-leafed ear..."
"Hmm, aku belum pernah mendengar tanaman ini di Korea..."
Kepala Bagian Oh Hyun-seok memiringkan kepala dengan bingung.
"Tanaman ini agak khusus dan bukan spesies asli sana, jadi mungkin Anda tak mengenalnya."
Tentu saja tanaman ini tak ada di Bumi.
Aku menggunakan pengetahuan tentang tanaman obat yang kudapat di dunia ini.
Namun, karena Kepala Bagian Oh Hyun-seok bukan ahli, sepertinya ia cukup percaya.
"Begitu. Silakan lanjutkan."
"Yang ini namanya blue baby's hand vein, juga dikenal sebagai blood-purifying grass. Ah, Jeon Myeong-hoon. Kau tak mendengarkanku lagi, ya?"
"...Maaf, iya."
Aku terus melotot pada Jeon Myeong-hoon sambil melanjutkan pelajaran tentang tanaman obat.
Begitulah hari berlalu.
Lalu, hari berikutnya.
Seekor ular merah besar berkepala dua menghadang kami di depan gua.
"Hi, hiik..."
"Huh..."
Orang-orang lain gemetar ketakutan sambil menggenggam dahan di dalam gua. Aku pun bertanya hati-hati kepada ular itu.
"...Apa keperluanmu?"
Ular itu menjawab.
[Pemilik wilayah ini telah mencicipi manusia dengan aroma unik.]
Meski tak sebanding dengan rubah, ular ini tetap mengerikan bagiku.
Tentu saja, dibanding rubah, ia tak terlalu membuatku trauma.
[Tentu saja, karena kalian telah memberikan persembahan kepada pemilik wilayah dan memperoleh izin tinggal selama tujuh hari tujuh malam, aku tak akan mengganggu kalian selama itu. Namun...]
Ular itu menjilat bibir dengan kedua kepalanya.
[Jika kalian mengizinkanku mencicipi sedikit darahmu, aku tak akan mengganggu kalian bahkan setelah tujuh hari tujuh malam berlalu.]
Berbeda dari rubah yang mencabik lenganku, permintaan ular ini cukup ringan.
Dalam kehidupan sebelumnya, saat rubah tak mengakuiku, ular berkepala dua ini hanya datang, menggigit tubuh Kepala Bagian Oh, mengisap darahnya, lalu pergi.
Sekarang ia bahkan meminta izin untuk mengambil sedikit darah.
'Harusnya tak masalah.'
Tubuh kami sebagai orang modern penuh kolesterol dan lemak.
Karena itu, dalam kehidupan sebelumnya, ular itu pergi setelah mencicipi darah Kepala Bagian Oh dan menyebutnya hambar.
"Kau mau berapa banyak darah?"
[Segenggam. Hanya segenggam darah. Setelah itu aku pergi.]
Aku tersenyum dan memandang Jeon Myeong-hoon.
"Pak Jeon Myeong-hoon. Bisa berikan sedikit darah kepada tuan ini?"
"A-apa?"
"Aku tidak memintamu mengorbankan lengan, cuma segenggam darah. Lukanya akan cepat menutup."
"A-aku..."
"Ah, Pak Jeon Myeong-hoon, bukankah kau perlu belajar tentang tanaman obat?"
"...Baiklah."
Dengan wajah memerah, Jeon Myeong-hoon menyayat tangannya menggunakan pisau batu tajam yang dibuatnya.
Tetes, tetes...
Ular itu melahap darah Jeon Myeong-hoon dengan lahap.
Tak lama kemudian.
[Banyak sekali kotoran di dalam darah ini. Bahkan ada racun. Rasanya buruk... Ini darah manusia terburuk yang pernah kucicipi.]
Ular itu menggoyangkan kedua kepalanya, lalu mundur.
Darah pekerja kantoran abad ke-21 yang sarat kolesterol dan nikotin memang tak enak.
[Bagaimanapun, karena kau mengizinkanku mencicipi darahmu, aku akan pergi.]
Setelah ular itu pergi, kuoleskan tanaman penghenti pendarahan ke luka Jeon Myeong-hoon.
Jeon Myeong-hoon tampak kesal, mungkin merasa jijik karena dijilat ular.
"Pak Seo Eun-hyun. Aku tahu dulu aku sering merundungmu saat kau baru masuk kerja, tapi apa ini tak keterlaluan?"
"Bagaimana lagi? Sulit meminta para pegawai perempuan atau para petinggi yang lebih tua seperti Kepala Bagian dan Direktur untuk memberikan darah."
"Segenggam darah saja seharusnya cukup untukmu..."
"...Lenganku baru saja putus kemarin, jadi darahku agak kurang. Segenggam saja sudah banyak bagiku."
"Kuhk..."
Jeon Myeong-hoon menggigit bibir dan menarik napas.
'Lucu juga. Dia berencana menjualku kepada rubah seminggu lagi.'
Ia hanya kesal karena aku mengorbankannya.
Bagaimanapun, ia tak bisa berbuat apa-apa kepadaku.
'Lagi pula, besok kami tak akan bertemu lagi...'
Kurasa aku harus memanfaatkan kesempatan ini dan mulai lebih sering mengerjai Jeon Myeong-hoon.
Begitulah, tiga hari berlalu sejak kami tersesat di hutan ini.
Wus, wus...
Sejak subuh ini angin bertiup kencang.
Zas, zas...
Udara pun terasa bergolak.
Aku tersenyum dan membangunkan Jeon Myeong-hoon pagi-pagi.
"Pak Jeon Myeong-hoon, ayo cari tanaman obat pagi ini."
"Pagi-pagi begini..."
"Ah, cepat."
"...Baiklah."
Aku mengajak Jeon Myeong-hoon berkeliling mencari tanaman obat.
Tak lama kemudian.
"Oh, ketemu!"
"Ini tanaman obat yang bagus?"
"Ya."
"Kelihatannya seperti ginseng..."
Jeon Myeong-hoon menelan ludah saat melihat tanaman yang menyerupai ginseng liar di hadapannya.
Tanaman ini sejenis ginseng bernama Yellow Bamboo Root.
Tanaman ini tak terlalu langka.
Yang penting ukurannya.
Mungkin karena menyerap spiritual energy, Yellow Bamboo Root yang biasanya sebesar kelingking kini setebal lenganku.
"Hahaha, luar biasa. Apa benar tak masalah menggali ginseng liar sebanyak ini?"
"..."
Jeon Myeong-hoon tampak gembira, sementara aku menahan tawa.
'Bagaimanapun, kelak kau tak akan berkesempatan memakan benda seperti ini.'
Bahkan Yellow Bamboo Root yang digalinya sendiri tak akan bisa ia makan.
Bagi cultivator, Yellow Bamboo Root hanya tanaman obat kelas rendah untuk manusia biasa.
'Tentu saja, ahli bela diri memakainya untuk meningkatkan internal energy... Nanti kuberikan kepada Direktur Kim.'
"Nanti kau boleh mencobanya. Sekarang masukkan dulu ke sini."
Kuserahkan kantong yang kubuat dari merobek pakaianku. Jeon Myeong-hoon memasukkan ginseng itu dengan hati-hati.
"Ayo kembali."
Sudah waktunya pulang.
Kami kembali ke gua, menyuruh Jeon Myeong-hoon menyalakan api, lalu duduk.
Saat aku duduk diam menatap langit...
Kwagwang! Kwakwagwang!
Tiba-tiba kilatan muncul dan sesuatu bertabrakan di langit.
Sepertinya cahaya hitam, keemasan, dan putih murni saling berbenturan.
Lalu, saat itu juga...
"Kuhuk! Kuaak!"
Jeon Myeong-hoon mendadak memuntahkan darah dan ambruk.
"Aaak, Aaaak!"
Wakil Manajer Kang Min-hee juga menjerit lalu jatuh. Jeritannya menggema seperti ratapan hantu.
Kepala Bagian Oh Hyun-seok pun ambruk sambil memegangi jantung.
'Saatnya tiba.'
Tak lama kemudian.
Paaat!
Tiga bola cahaya meluncur turun ke atas gua tempat kami berada.
[Wah, luar biasa. Tak kusangka menemukan harta karun seperti ini saat kebetulan berpapasan dengan orang-orang menyebalkan itu.]
[Siapa yang bicara? Enyahlah, Byuk-ho. Mereka semua milikku.]
[Tak tahu malu. Heo Gwak.]
Dari dalam bola-bola cahaya muncul seorang pria paruh baya berjubah emas, sosok berjubah hitam yang jenis kelaminnya tak jelas, dan seorang raksasa berzirah biru.
"Ka-kalian... siapa...?"
Direktur Kim bertanya dengan suara takut.
Namun, mereka sekilas memandang Direktur Kim lalu mengabaikannya.
[Tidak ada spiritual roots.]
[Hanya manusia biasa.]
[Mereka tak ada hubungannya dengan hartaku.]
Pandangan mereka menyapu kami satu per satu.
[Apakah ketiga orang ini memiliki spiritual roots?]
[Tapi menakjubkan. Bagaimana bisa manusia yang belum berlatih berakhir di Ascension Path...?]
[Hehe, sepertinya rubah itu menipu salah satu dari mereka. Dari lukanya, ia tampaknya menyerahkan diri dengan sukarela. Hebat juga semangat seorang manusia biasa.]
Kwang!
Raksasa berzirah biru itu menghentakkan kaki, dan cahaya biru kehijauan samar beriak ke segala arah.
Saat cahaya itu menyentuh tubuhku, sesuatu yang menakjubkan terjadi. Lenganku tumbuh kembali, terbungkus cahaya biru langit.
"Te-terima kasih!"
Aku membungkuk dalam kepada raksasa itu, diliputi rasa syukur. Ia tertawa lebar lalu berkata,
[Tak perlu terlalu sopan. Bagi seorang cultivator, memulihkan vitalitas seorang manusia biasa sangat mudah. Bagaimanapun...]
Klik.
Raksasa berzirah biru itu mengibaskan tangan ke udara.
Tubuhku terdorong ke belakang, sementara Jeon Myeong-hoon, Kepala Bagian Oh, dan Wakil Manajer Kang tertarik maju.
[Ketiga orang ini memiliki spiritual roots. Mari kita lihat siapa yang cocok.]
Pria paruh baya berjubah emas maju dan mengulurkan tangan.
Sebuah pedang emas melayang di atas telapak tangannya.
Wuuung!
Pajijik!
Bersamaan dengan itu, petir keemasan menggelegar di langit dan Jeon Myeong-hoon kembali ambruk sambil memuntahkan darah.
[Sesuai dugaan... luar biasa! Heavenly Golden Thunder Physique...!]
[Minggir, giliranku.]
Sosok berjubah hitam yang jenis kelaminnya tak jelas mendorong pria berjubah emas ke samping, lalu mengeluarkan pipa hitam.
Tung—
Saat senar pipa dipetik, Wakil Manajer Kang Min-hee memegangi kepala dan menjerit.
"Aaak!"
Jeritannya kembali menggema seperti ratapan hantu.
Sosok berjubah hitam itu tersenyum tipis.
[Ghostly Yin Transforming Immortal Root...! Tak kusangka benda itu benar-benar ada! Aaaa...]
[Hehe, aku juga yakin yang kurasakan bukan khayalan.]
Raksasa berzirah biru melewati sosok berjubah hitam dan mendekati Kepala Bagian Oh Hyun-seok.
"A-apa ini?"
Kepala Bagian Oh tampak ketakutan, tetapi raksasa itu justru memeriksa nadinya dengan tenang sambil memegang pergelangan tangannya.
Tak lama kemudian...
[Unique Holy Body! Apa tubuh seperti ini benar-benar ada? Mustahil...]
Beberapa saat kemudian, ketiganya tampak terkejut, lalu menenangkan diri dan bertanya kepada mereka.
[Maukah kalian mempertimbangkan jalan kultivasi?]
Pria paruh baya berjubah emas berbicara kepada Jeon Myeong-hoon dengan ramah.
[Kalian masing-masing memiliki bakat untuk mengguncang dunia. Bakat sebesar itu tak boleh disia-siakan.]
Sosok berjubah hitam memandang Wakil Manajer Kang Min-hee dengan tatapan penuh minat.
[Immortality! Kekuatan untuk membalikkan langit dan bumi! Kekayaan dan kehormatan tak terbatas! Tak menginginkan semuanya? Kujamin, jika kau mengikutiku, dalam seratus tahun kau akan mendapatkan semua itu.]
Raksasa berzirah biru menghampiri Kepala Bagian Oh Hyun-seok tanpa sungkan dan berbicara sambil memijat tubuhnya.
[Aku Grand Master Golden Divine Heavenly Thunder Sect, Jin Byuk-ho. Bagaimana kalau kalian bertiga bergabung dengan Golden Divine Heavenly Thunder Sect-ku?]
[Hmph, serakah sekali! Di Black Ghost Valley kami tak kekurangan metode unsur apa pun. Aku White Bone Ghost Devil, Grand Elder Dewan Tetua Black Ghost Valley. Jika kalian bertiga bergabung dengan lembah kami, kalian bisa berkembang semaksimal mungkin.]
[Ya, aku sebenarnya tak membutuhkan kedua orang itu. Hanya kau, Unique Holy Body, ikutlah denganku. Aku Azure Tiger Saint, pendiri sekaligus pemimpin sekte Azure Heaven Creation Sect. Kalau kau mau, bahkan sekte ini akan kuserahkan kepadamu. Oh, dua orang lainnya juga boleh ikut jika mau. Meski arahnya berbeda, kalian berdua juga berbakat luar biasa, jadi akan kuangkat sebagai murid langsung.]
Ketiga cultivator itu seolah memberi mereka pilihan, padahal kenyataannya tak berbeda dari ancaman paksa.
Raksasa berzirah biru yang dikenal sebagai Azure Tiger Saint nyaris meremukkan bahu Kepala Bagian Oh Hyun-seok.
Sosok berjubah hitam dengan jenis kelamin tak jelas, White Bone Ghost Devil, melakukan sesuatu yang mencurigakan sambil bertatapan dengan Wakil Manajer Kang Min-hee.
Tatapan Wakil Manajer Kang Min-hee perlahan menjadi kosong.
Sementara itu, Jin Byuk-ho tampaknya menekan Jeon Myeong-hoon dengan kekuatan tak kasatmata, seolah mengancam akan membunuhnya jika ia tak memilih.
Tak lama kemudian, Jeon Myeong-hoon, Kepala Bagian Oh Hyun-seok, dan Wakil Manajer Kang Min-hee terpaksa bergabung dengan tiga sekte kultivasi itu.
[Selamat bergabung di sekte, haha!]
[Para tetua lembah akan merawatmu dengan baik.]
[Ayo, muridku. Kita berangkat.]
Ketiga cultivator itu hendak pergi membawa mereka.
Saat itu, Direktur Kim yang sedari tadi menonton dengan linglung mendadak sadar dan berlari keluar.
"Tunggu, tunggu sebentar! Permisi! Bisakah kalian membantu kami keluar dari hutan ini? Kalau tetap di sini, kami semua akan mati!"
[Hmm, apa kau khawatir karena kalian manusia biasa? Takut pada rubah itu? Jangan cemas.]
Raksasa berzirah biru, Azure Tiger Saint, tertawa saat berbicara.
[Kami telah mengalahkan semua iblis dan monster di Ascension Path dalam perjalanan kemari! Sekarang kami akan menangkap rubah itu juga; selama sepuluh tahun ke depan, Ascension Path akan aman!]
"Ah, bukan... Tolong lihat! Kepala Seksi Jeon! Kepala Bagian Oh! Wakil Manajer Kang! Katakan sesuatu! Kami bahkan tak tahu jalan keluar dari sini!"
Jeon Myeong-hoon sebenarnya sudah ditangkap Jin Byuk-ho di dalam botol emas seperti Pokémon.
Wakil Manajer Kang Min-hee sepenuhnya terpikat oleh White Bone Ghost Devil.
Azure Tiger Saint hanya menertawakan apa pun yang dikatakan Kepala Bagian Oh Hyun-seok, seakan tak tertarik.
'Dulu, lima puluh tahun lalu, begini juga.'
Ketiganya tak bertanggung jawab dan tak waras.
Sekeras apa pun kami berteriak, mereka tak menggubris, seolah kami cuma serangga, lalu pergi begitu saja.
Alih-alih berteriak sampai serak kepada ketiga cultivator itu, kusentuh lenganku yang sudah pulih.
'Yah, setidaknya mereka menyembuhkan lenganku.'
Aku menghela napas dan diam-diam berterima kasih kepada Sir Chang Ho.
Direktur Kim berteriak sampai suaranya serak melihat tiga bola cahaya menghilang, tetapi tak ada jawaban.
"Ugh... Sialan..."
Akhirnya Direktur Kim ambruk begitu saja.
"Apa yang harus kita lakukan... di hutan ini...?"
Kini hanya kami berempat yang tersisa.
Aku, Direktur Kim Young-hoon, Wakil Manajer Oh Hye-seo, dan Manajer Kim Yeon.
'Besok, Wakil Manajer Oh dan Manajer Kim mungkin akan diculik juga...'
Waktuku berdua saja dengan Direktur Kim akan segera tiba.
Direktur Kim sempat terpukul, tetapi saat melihat lenganku pulih, ia gembira dan mengucapkan selamat.
"Sungguh melegakan, benar-benar melegakan..."
"Betul. Lagi pula, Azure Tiger Saint bilang ia akan menangkap rubah itu juga. Kalau tujuan kita hanya bertahan hidup, sepertinya kita bisa melakukannya."
"Huu... Begitu, ya..."
"Saat lengan Wakil Manajer Seo tercabik, rasanya aku hampir kehilangan akal... Tapi melihat tiga rekan kita lenyap begitu saja masih benar-benar mengejutkan..."
"Wakil Manajer, sungguh beruntung."
Kami kehilangan rekan-rekan, tetapi nyawa kami terjamin di tempat asing ini. Kami hanya duduk tanpa tahu harus menangis atau tertawa.
Tak lama kemudian.
Seberkas cahaya putih murni melintas di langit seperti meteor.
"Oh, apa itu...?"
Bukan hanya itu.
Setelah cahaya putih itu, beberapa, bahkan puluhan cahaya melintas di langit bagaikan hujan meteor.
Semuanya menuju arah terbangnya Jin Byuk-ho, White Bone Ghost Devil, dan Sir Azure Tiger Saint.
"Ada apa di sana...?"
Direktur Kim menatap ke arah itu dengan bingung. Aku mulai mengumpulkan buah untuk dimakan hari itu dan menyalakan api untuk memanggangnya.
Besok, giliran berpisah dengan Wakil Manajer Oh dan Manajer Kim.
Sssssss—
Hari berikutnya pun tiba.
Hari itu aneh karena hujan turun.
Awan gelap memenuhi langit dan guntur menggelegar.
"...Dengan cuaca begini, susah mencari buah. Bagaimana ini?"
Manajer Kim memandang kami dengan cemas.
"...Apalagi Wakil Manajer Oh sedang tidak sehat."
Memang benar.
Wakil Manajer Oh Hye-seo terbaring demam tinggi, menatap langit dengan pandangan kosong sambil bergumam.
"...Tunggu sebentar lagi."
Aku berkata sambil memandang langit.
"Siapa tahu hari ini keajaiban seperti kemarin terjadi lagi."
"...Apa itu benar-benar keajaiban? Ah, tentu, lenganmu tumbuh kembali memang seperti... keajaiban, tapi..."
Aku terkekeh dan berkata kepada Manajer Kim.
"Siapa tahu. Mungkin ada orang yang datang dan menyembuhkan penyakit Wakil Manajer Oh sepenuhnya."
Aku, Manajer Kim, dan Direktur Kim sama-sama menatap langit.
Waktu makan siang.
Kwarurung!
Guntur menggelegar.
Batuk! Batuk!
Batuk dan demam Wakil Manajer Oh makin parah. Darah mengalir dari hidungnya.
"Wakil Manajer Seo. Ada tanaman obat yang bisa kita pakai? Apa yang harus kita lakukan...?"
"Untuk sekarang, coba beri dia tanaman penurun demam."
Saat itulah terjadi.
Duk, duk...
Seseorang memasuki gua.
Ia pria paruh baya tampan berjubah biru.
Pria berambut sanggul itu memiliki sepasang tanduk kecil seperti rusa di kepalanya.
[Manusia biasa di Ascension Path. Mereka seperti semut yang terinjak dalam persaingan naga sejati.]
"Si-siapa Anda?!"
Direktur Kim, waspada, melindungi diri dari sosok baru itu. Pria tersebut tersenyum getir dan memperkenalkan diri dengan santai.
[Aku Sea Dragon King, Seo Hweol. Aku datang mengikuti sumber cuaca badai yang muncul tiba-tiba dan tak wajar. Wanita di sana menggunakan jurus badai.]
Pria bernama Seo Hweol itu menunjuk Wakil Manajer Oh.
[Sebenarnya, itu bukan tepatnya jurus, tetapi benar, ia mengendalikan kekuatan badai. Tubuh manusianya kewalahan menimbulkan peristiwa sebesar itu.]
"Ba-badai?"
[Ya, badai. Ini cukup aneh. Seorang manusia, bahkan manusia biasa tanpa spiritual roots, mengendalikan kekuatan sebesar itu... Padahal ia sendiri tak melakukannya dengan sadar. Benar-benar ganjil.]
Memang aneh...
Karena penasaran, aku mengajukan pertanyaan yang sejak tadi mengganjal pikiranku kepada Seo Hweol.
"Sebenarnya, kami mengalami kejadian yang lebih aneh. Kemarin, tiga cultivator luar biasa membawa rekan kami yang tampaknya sangat cocok menjadi murid mereka. Hari ini, Anda datang untuk memeriksa Wakil Manajer Oh. Kenapa orang-orang sehebat Anda datang secara khusus menemui kami?"
Mendengar pertanyaanku, Seo Hweol tampak kebingungan sesaat lalu tertawa terbahak-bahak.
[Hahaha, memang begitu. Aku tak tahu detailnya, tetapi di antara kalian ada manusia biasa dengan bakat luar biasa. Para Master yang cocok dengan bakat itu membawa rekan-rekanmu. Dan hari ini, aku datang khusus untuk wanita itu karena kebetulan cocok denganku. Apa itu aneh?]
Seo Hweol bertanya kepadaku seolah terhibur.
[Dengar, kawan manusia. Apa kau tahu tempat ini?]
"Dari yang kudengar, tempat ini disebut Ascension Path..."
[Ascension Path, yang juga dikenal sebagai Path to Ascension, adalah gerbang menuju Upper Realm. Dalam beberapa bulan, di dekat Ascension Path akan terbuka celah ruang bernama Gateway to Heaven, Ascension Gate.
Peristiwa itu hanya terjadi sekali dalam seribu tahun. Selama itu, ruang di sekitarnya menjadi tak stabil dan banyak cultivator serta iblis berkumpul di sekitar Ascension Path. Mereka semua ingin naik ke Upper Realm. Para cultivator tingkat tinggi yang ada di dunia ini hampir semuanya akan berkumpul.
Jadi, tak mustahil para Master yang cocok dengan kalian muncul. Kemungkinan yang sama berlaku bagi wanita itu. Jika bukan aku, cultivator tingkat tinggi atau iblis lain pasti akan menemukannya.]
"Begitu rupanya..."
Kupikir ada entitas yang mengirim kami ke dunia ini dengan maksud segera memisahkan kami.
Namun, tampaknya sebenarnya ini cuma soal peluang.
"Ehm, tapi para cultivator membawa rekan-rekan saya..."
Melihatku memulai percakapan dengan Seo Hweol, Direktur Kim tampak lebih tenang dan ikut bertanya.
"Mereka bicara soal bergabung dengan sekte dan mewarisi ajaran mereka. Tapi kalau mereka naik ke Upper Realm... bagaimana mereka mengajak orang bergabung dengan sekte?"
[Hmm, sebagai manusia biasa, mungkin kau tak memahami para cultivator. Salah satu kemampuan mereka memungkinkan benda besar diperkecil untuk disimpan.]
Mendengar jawaban Seo Hweol, aku terperanjat.
[Mungkin mereka semua menyimpan sekte masing-masing dalam alat penyimpanan. Mereka berniat naik ke Upper Realm bersama seluruh sekte saat Ascension Gate terbuka. Ah, aku sendiri juga menyimpan salah satu kastel Sea Dragon Tribe dalam alat penyimpananku. Ada sekitar seribu delapan ratus anggota Sea Dragon Tribe-ku yang tidur di dalamnya.]
Aku dan Direktur Kim tertegun mendengar ucapannya yang luar biasa.
Swoosh...
Seo Hweol lalu menghampiri Wakil Manajer Oh dan mengusap dahinya.
Kondisinya yang tadi demam dan terengah-engah segera stabil.
[...Menarik, benar-benar menarik. Jika ia menjadi anggota Sea Dragon Tribe-ku, mungkin ia akan menjadi sosok luar biasa...]
Swoosh...
Sambil bicara, Seo Hweol mengangkat Wakil Manajer Oh. Direktur Kim panik dan mencoba menghentikannya, tetapi terpental oleh kekuatan tak kasatmata.
"Ughh!"
[Wanita ini akan menerima darahku dan menjadi bagian dari Tribe-ku. Itu mungkin baik bagi kami berdua. Karena banyak cultivator tangguh akan melewati Ascension Path, aku mengatakan ini sebagai peringatan...]
Cahaya berkilat!
Pupil Seo Hweol berubah menjadi celah vertikal.
"Uhuk! Tersedak... Argh!"
"Guh... Ugh..."
Aku dan Direktur Kim, yang tadi mengajukan pertanyaan kepada Seo Hweol, ambruk di bawah tekanan luar biasa. Bahkan bernapas pun terasa sulit.
[Jangan sembarangan bertanya kepada cultivator tingkat tinggi. Aku berhati baik dan menjawab pertanyaan kalian, tetapi beberapa cultivator bertabiat buruk akan meledakkan kalian seperti serangga hanya karena ditanya...]
Setelah berkata demikian, Seo Hweol meninggalkan gua.
Cahaya berkilat!
Bum!
Sebuah kilatan dan gemuruh menggelegar terdengar. Tak lama kemudian, kami melihat Blue Dragon terbang di langit.
Sssssss—
Hujan masih belum berhenti.
Manajer Kim memandang langit dengan tatapan kosong dan bergumam,
"...Semua orang sudah dibawa pergi. Sekarang aku bahkan tak tahu apa yang terjadi. Tiba-tiba ada longsor, tiba-tiba kami di dunia lain, ada cultivator, naga menculik rekan kerja... Ha, haha..."
Ia menutupi wajah, tampak hendak menangis.
Direktur Kim Young-hoon juga menghela napas panjang dengan muram.
"Aku tak tahu harus bagaimana. Kita harus mencari tempat yang ada orangnya, tetapi aku bahkan tak tahu harus pergi ke mana. Para cultivator dan naga itu cuma mengatakan hal-hal yang tak kupahami dan... sialan."
"..."
Diam-diam kutepuk bahu mereka berdua.
Tiba-tiba Manajer Kim Yeon meraih lenganku.
"Wakil Manajer Seo, kau tak akan tiba-tiba menghilang juga, kan?"
"..."
"Jangan, Wakil Manajer. Kalau kau ikut dibawa pergi, aku tak yakin bisa bertahan di hutan ini..."
Aku tersenyum getir.
Malam ini.
Terakhir, Manajer Kim Yeon akan diculik oleh makhluk aneh.
Catatan Bab
- Rubah mengizinkan kelompok tinggal di wilayahnya selama tujuh malam setelah Seo menyerahkan lengan kirinya. Kekuatan sucinya membuat Seo tak mati, lalu lengannya pulih saat para cultivator tiba.
- Jeon Myeong-hoon membujuk kelompok agar mengandalkan Seo untuk pengetahuan bertahan hidup, sementara Seo mengajarinya tanaman obat dan buah hutan sambil diam-diam mengerjainya. Ular merah berkepala dua meminta segenggam darah; Seo menyuruh Jeon memberikannya.
- Pada hari ketiga, Jin Byuk-ho, White Bone Ghost Devil, dan Azure Tiger Saint menemukan bakat Jeon, Kang Min-hee, dan Oh Hyun-seok, lalu memaksa mereka bergabung dengan sekte masing-masing. Ketiganya memiliki Heavenly Golden Thunder Physique, Ghostly Yin Transforming Immortal Root, dan Unique Holy Body.
- Seo Hweol, Sea Dragon King, datang pada hari berikutnya karena badai yang tanpa sadar ditimbulkan Oh Hye-seo. Ia menjelaskan Ascension Path, Upper Realm, dan Ascension Gate yang terbuka sekali dalam seribu tahun, lalu membawa Oh Hye-seo ke Sea Dragon Tribe.
- Tinggal Seo, Direktur Kim Young-hoon, dan Kim Yeon. Seo tahu Kim Yeon juga akan diculik malam itu.